Zen Bu Ichi

極 真 之 書

Kyokushin no Sho Buku Kyokushin

Metode untuk menyempurnakan diri

Gambar

Saya dilahirkan pada akhir bulan Oktober 1950, pada waktu kecil fisik saya kecil, kurus dan sakit-sakitan, sehingga sering dijahili dan jadi bulan-bulanan teman sepermainan, tak pelak lagi sejak kecil saya memiliki keinginan untuk menjadi sehat, kuat dan perkasa, untuk itu berbagai macam olah raga dan seni bela diri saya pelajari, mulai dari tenis meja, bulu tangkis, renang, atletik,  volley. sepak bola dan basket, pada tahun 1964 belajar Judo di Dojo Judo Asociation selama 1 tahun,  pada tahun 1968 belajar kung fu aliran San Tung Suhu Liu Han Jing ( tokoh kungfu legenadaris dari Jogja, yang sejajar dengan Suju Lao Jing Tie dari Parakan, Suhu Jie Siauw Fu Semarang dan Suhu Lo Ban Teng dari Jakarta )  pada Suhu Tan Liong Swan selama 2 tahun, pada tahun 1970 belajar meneruskan belajar  pada Suhu The Kim Han, Sa Ko ( kakak ketiga ) Hoo Hap Hwe selama 3 tahun.

Gambar

Pada pertengahan tahun 60 an, berbagai seni bertarung dari Jepang seperti Judo, Jujitsu, Kempo dan Karate masuk ke Indonesia bersama para mahasiswa yang pulang belajar dari Jepang, kota Yogyakarta juga tidak luput dari trend ini, berbagai seni bertarung Jepang, khususnya Karate sudah bermunculan di Yogyakarta, tetapi pada waktu itu saya sedikitpun tidak tertarik  untuk berlatih! Perkenalan saya dengan Kyokushin Karate terjadi begitu saja pada suatu malam bulan Oktober 1973, ketika saya bersama beberapa teman berjalan-jalan disepanjang  jalan Malioboro, mata saya bagai tertarik sebuah magnet, begitu saya melihat sebuah bendera  pendaftaran murid baru, dengan logo Kanku dan Kick nya Pembinaan mental karate Kyokushinkai, ditokonya Sempai Agus Indrayana (almarhum), mungkin sudah menjadi karma saya dengan Kyokushin, tanpa berpikir panjang saya langsung mendaftar menjadi murid!

人 生 如 白 駒 過 溪 ren sheng ru bai ju guo xi, Kehidupan bagai kuda putih melintasi sungai, tidak terasa 36 tahun telah berlalu, saya juga tidak pernah mengira keberadaan saya di Kyokushin terus berlanjut sampai hari ini, mungkin telah menjadi karma saya dengan Kyokushin, dan saya percaya bahwa keberadaan saya di Kyokushin, akan terus berlanjut hingga akhir hayat!

Meski telah berlalu 36 tahun, tetapi ingatan saya pada waktu pertama kali masuk di Dojo jl. Tentara Pelajar Yogyakarta masih demikian segar, sore itu ketika akan masuk Gedung Koni DIY, ada 2 orang pemuda yang berpakaian parlente yang menjinjing tas Echolac, berdiri tegap disamping lorong masuk ke Dojo, karena tidak mengenal mereka, saya nyelonong masuk begitu saja tanpa menyapa, ternyata mereka adalah Shihan JB. Suyoto dan Sensei Handy AP, hari itu ada pergantian Instruktur dari Shihan JB. Suyoto ke Sensei Handy AP.

Gambar

Pada tahun 1982 saya keluar dari Perguruan Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai, dan membantu Shihan JB. Suyoto mendirikan dan mengembangkan Perguruan Kyokushin Karate Indonesia, pada bulan Maret 2008 saya keluar dari Perguruan Kyokushin Karate Indonesia, pada tanggal 12 Juli 2008 di Kaliurang Yogyakarta, dengan didukung oleh Shihan Ong Hok Bie, Sempei Ignatius Haryoso, Sempei Anwar Priyadi, Sempei Gandi Ali Mardana, Sempei Anggoro Padmono, Sempei Gunawan Wibisono, Sempei Asep Sigit, Sempei Andri Sebastian, Sempei Hendrawan Kuswanto, Sempei Pomo Yomulyo, Sempei Catur Sulistyo, Sempei Supriyanto, Sempei Jonatan Aria Pradana, dan Sempei Ivan Soesanto dari Yogyakarta, Sensei Oei Kim Liong, Sempei Agung Purnama, Sempei Sonny The, dan Sempei Eko dari Bali, Sensei Liang To dari Kutai Kertanegara Kalimantan timur, Sempei Surawan Budi Santosa dari Pekan baru Riau, Sensei Nelton, Sempei Fauzi dan Sempei Rustam dari Balik papan Kalimantan timur, mendeklarasikan perguruan baru : Akademi seni bertarung Kyokushin Indonesia!

Setelah bergabung dengan Perguruan Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai, bagai kehausan dan kelaparan saya berlatih dan mempelajari ilmu Kyokushin dan ilmu kesehatan, tetapi fisik saya tidak kunjung kuat dan masih sering sakit-sakitan! Pada tahun 1988 saya cek kesehatan di RS Mangun Cipto Kusuma Jakarta, ternyata saya mengidap virus Toxo plasma gondii, pada tahun 1990 ketika tes darah di laboratorium Prodia Yogyakarta, ketemu lagi virus yang tidak kalah mematikan Hepatitis B, adalah mukjijat dari Tuhan jika orang yang mengidap 2 virus yang mematikan sekaligus bisa bertahan hidup, saya hanya bisa memanjatkan puji syukur bagi Nya!

Gambar

Setelah saya dinyatakan sembuh dari 2 virus yang mematikan, saya merasa dengan bertahan berlatih Kyokushin Karate, badan saya pasti akan menjadi sehat dan kuat, tetapi kenyataan yang saya terima ternyata berlawanan! Pada tahun 1990 mungkin karena faktor usia, fisik saya justru makin menurun, setiap meminpin Kihon, ketika sampai pada sesi tendangan, sangat terasa sekali stamina tidak mendukung, untuk menyelesaikan Kihon, saya harus menertakan gigi! Pada tahun 1993, saya mendapat cobaan lagi yang tidak kalah fatal dengan apa yang pernah saya alami, syaraf punggung saya terjepit diruas ketiga bawah tulang punggung, selain rasa nyeri yang selalu mendera, syaraf yang terjepit tersebut juga berhubungan dengan kaki kanan saya, jangankan untuk menendang, untuk berdiri satu kaki saja tidak mampu! Selama hampir satu tahun saya mencari kesembuhan lewat dokter, fisio therapy, tukang pijat sataraf, tusuk jarum dan sebagainya, tetapi hasilnya nihil, pada tahun 1994 Shihan Ong Hok Bie memberi foto copy buku ilmu Qi Gong dari perguruan 鶴 翔 莊 氣 功 He Xiang Zhuang Qi Gong, ketika saya melihat foto copy tersebut, saya baru teringat bahwa pada tahun 1992, ketika kakak ipar saya dari Tiong Kok datang berkunjung kerumah, saya diberi oleh-oleh buku Qi Gong, tetapi pada waktu itu, buku tersebut hanya saya baca secara sekilas, dan karena tidak berminat, buku tersebut saya simpan dilemari! Mungkin baru sampai pada karmanya, buku tersebut saya cari, dan begitu saya baca, segera langsung terpikat dengan ilmu yang tersimpan didalamnya, dengan tidak mengenal hari, tiap pagi dan sore saya mempelajari buku tersebut, dari teori kepraktek dan melakukan perenungan, setelah melalui proses pengulangan yang tidak terhitung, akhirnya secara perlahan-lahan tetapi pasti, saya mendapat pencerahan tentang ilmu Qi Gong yang selama ini dibungkus oleh mitos-mitos dan tahayul! Demikian juga dengan sakit pinggang saya, secara perlahan-lahan akhirnya bisa saya kendalikan!

久 病 成 名 醫 Jiu Bing Cheng Ming Yi, Orang yang lama menderita sakit, akan menjadi dokter yang baik bagi dirinya! Saya juga bersyukur, karena badan yang lemah dan sakit-sakitan, saya akhirnya malah memiliki ilmu Kyokushin yang perkasa dan Ilmu Qi Gong yang luar biasa, sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan!

功 夫 不 負 有 心 人 Gong Fu Bu Fu You Xin Ren, Ilmu tidak pernah mengecewakan orang yang memiliki kemauan,  selama 36 tahun menjadi seorang Shugosha ( prajurit pengembara ) di Jalan Karate, pada mulanya saya tidak mengetahui apa itu Kyokushin Karate, saya hanya diberitahu bahwa Kyokushin Karate adalah sebuah teknik bertarung tangan kosong dengan sistem full contact, tetapi saya bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang amat teramat berharga dibalik seni bertarung Kyokushin!

Gambar

Sosai Masutatsu Oyama didalam bukunya This is Karate mengatakan bahwa Kyokushin Karate adalah Zen dan Budo Karate! Dengan berbekal secuil petunjuk itu saya mencoba merangkai puzzle-puzzle yang berserakan disepanjang Jalan Latihan, pada tahun 1980 an cerita bersambung tentang Kensei ( dewa pedang ) Miyamoto Musashi, seorang samurai legendaris Jepang yang dilahirkan pada tahun 1584, dimuat secara bersambung di harian Kompas Jakarta, pada tahun 1985 bukunya diterbitkan oleh Gramedia, tak pelak lagi buku tersebut menjadi panduan utama bagi saya untuk mempelajari seni bertarung, buku tersebut telah saya baca lebih dari puluhan kali, setiap mengulang membaca, saya selalu menemukan hal baru yang terselip, didalam membaca buku Miyamoto Musashi, saya mencoba untuk memahami proses yang dialami oleh Miyamoto Musashi, dari seorang berandalan menjadi seorang ksatria, proses dari belajar sampai pedangnya menyatu dengan dirinya, proses dari pedang pembunuh menjadi pedang pelindung, tetapi gambaran tentang Zen dan Budo masih sangat kabur!

Gambar

Pada tahun1996, Sempai Peter Sindoro ( tinggal di Semarang ) salah seorang murid saya, memberi sebuah buku : Rahasia Musashi, sukses bisnis Jepang, diterbitkan Sang Saka Gotra tahun 1984, buku yang kertasnya sudah berubah menjadi kuning tersebut, secara tidak sengaja ditemukan, ketika melihat-lihat di pusat buku loakan di Shoping Centre Yogyakarta, didalam buku tersebut, selain menceritakan sejarah juga buku Go Rin no Sho Miyamoto Musashi, selain itu juga membicarakan tentang Bushido, Kendo, Zen dan Budo, juga Heiho nya Miyamoto Musashi, selama lebih dari 10 tahun, saya melakuka apa yang diajarkan oleh Miyamoto Musashi : membaca lebih dari satu kali, maka akan menemukan lebih banyak hal, bagai kehausan dan kelaparan buku tersebut saya pelajari, teori saya padukan dengan praktek, melakukan perenungan dan mencoba untuk memahami tentang Zen dan Budo, entah sudah beberapa puluh kali proses ini saya ulang, saya sudah tidak bisa mengingatnya, baru pada bulan Oktober tahun 2006 saya mendapatkan penyadaran dan pencerahan tentang Zen dan Budo, bahwa : Zen dan Budo adalah sebuah metode pendidikan, pendidikan yang berunsur Psycho motoric dan Afectif, yang akan membentuk watak ksatria dan menyiapkan calon-calon pemimpin dan wira usaha yang berjiwa tangguh dan luhur, yang berguna bagi nusa dan bangsa! 

Setelah mengalami duka lara dan merasakan pahit getirnya kehidupan di Jalan Karate,  puzzle-puzzle tersebut saya tuliskan dalam  Buku Kyokushin, buku ini berisi falsafah dan filosofi seni bertarung, teori dan teknik seni bertarung, juga berisi  cara dan strategi untuk menyiapkan dan menjadikan diri kita menjadi Kyokushin, untuk memudahkan mempelajarinya, buku Kyokushin saya bagi dalam 6 bab, yaitu Buku Tanah, Buku Air, Buku Angin, Buku Api, Buku Hampa dan saya tutup dengan Buku Emas.

Gambar